TANYA JAWAB LANGSUNG DENGAN IMAM GHOZALI


Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul
dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya (Teka Teki ) ;

Imam Ghazali = " Apakah yang paling
dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = " Orang tua "
Murid 2 = " Guru "
Murid 3 = " Teman "
Murid 4 = " Kaum kerabat "
Imam Ghazali = " Semua jawapan itu
benar. Tetapi yang paling dekat dengan
kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah
bahawa setiap yang bernyawa pasti akan
mati ( Surah Ali-Imran ;185).

Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh
dari kita di dunia ini ?"
Murid 1 = " Negeri Cina "
Murid 2 = " Bulan "
Murid 3 = " Matahari "
Murid 4 = " Bintang-bintang "
Iman Ghazali = " Semua jawaban itu
benar. Tetapi yang paling benar adalah
MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun
kenderaan kita, tetap kita tidak akan
dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh
sebab itu kita harus menjaga hari ini,
hari esok dan hari-hari yang akan
datang dengan perbuatan yang sesuai
dengan ajaran Agama".

Iman Ghazali = " Apa yang paling besar
didunia ini ?"
Murid 1 = " Gunung "
Murid 2 = " Matahari "
Murid 3 = " Bumi "
Imam Ghazali = " Semua jawaban itu
benar, tapi yang besar sekali adalah
HAWA NAFSU (Surah Al A’raf; 179). Maka
kita harus hati-hati dengan nafsu
kita, jangan sampai nafsu kita membawa
ke neraka."

IMAM GHAZALI" Apa yang paling berat
didunia? "
Murid 1 = " Baja "
Murid 2 = " Besi "
Murid 3 = " Gajah "
Imam Ghazali = " Semua itu benar, tapi
yang paling berat adalah MEMEGANG
AMANAH (Surah Al-Azab ; 72 ). Tumbuh-
tumbuhan, binatang, gunung, dan
malaikat semua tidak mampu ketika
Allah SWT meminta mereka menjadi
khalifah pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya
berebut-rebut menyanggupi permintaan
Allah SWT sehingga banyak manusia
masuk ke neraka kerana gagal memegang
amanah."

Imam Ghazali = " Apa yang paling
ringan di dunia ini ?"
Murid 1 = " Kapas"
Murid 2 = " Angin "
Murid 3 = " Debu "
Murid 4 = " Daun-daun"
Imam Ghazali = " Semua jawaban kamu
itu benar, tapi yang paling ringan
sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN
SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau
urusan dunia, kita tinggalkan solat "

Imam Ghazali = " Apa yang paling tajam
sekali di dunia ini? "
Murid- Murid dengan serentak menjawab
= " Pedang "
Imam Ghazali = " Itu benar, tapi yang
paling tajam sekali didunia ini adalah
LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah,
manusia dengan mudahnya menyakiti hati
dan melukai perasaan saudaranya
sendiri "

"sampaikanlah walau satu ayat".. 


http://yudikaffah.blogspot.com/

SIAPAKAH PENGARANG KITAB BAJURI???

Nama lengkap beliau Assyeikh Al-Imam Ibrohim bin Muhammad bin Ahmad Albajuri. sedang nama bajuri itu sendiri diambil dari kota kelahiranya, bajur sebagian menyebutnya Baijur dengan menggunakan huruf ya’ yang masih bagian wilayah mesir. Di situlah beliau lahir pada tahun 1198 H dan di situ pula beliau dibesarkan dalam asuhan dan bimbingan orang tuanya.
            Dari ayahandanya beliau mendapatkan pendidikan dasar dan membaca Al-Qur’an dengan sempurna baik makhroj maupun tajwidnya. Pada tahun 1212 H dengan berbekal apa yang beliau dapatkan dari kampong halaman beliau diberangkatkan ke Kairo untuk mendalami agama di Al-Azhar. Di mana usia beliau saat itu sudah genap 14 tahun. Tekadnya belajar di Al-Azhar sempat terganggu oleh infasi Prancis ke Mesir pada tahun 1213 H sehingga tertunda tiga tahun dan baru pada tahun 1216 H ketika Prancis menarik pasukannya beliau bisa masuk kembali ke Al-Azhar dan menekuni pendalaman agama pada guru-guru besar seperti Syeikh Assyarqowi, Syeikh Muhammad Al-Fadholi  Syeikh Muhammad Amir Al-Kabir dan lain sebagainya
            Ketekunan dan semangatnya dalam menggali ilmu tertunjang dengan bakat kecerdasan yang telah tampak semenjak usia kanak-kanak. Sehingga menjadikan beliau mampu melewati kemampuan rata-rata sebayanya dan mendapat kepercayaan menduduki jabatan paling prestisius saat itu, sebagai rector Al-Azhar yang merupakan perguruan  tinggi dambaan semua pelajar semenjak tahun 1263 H hingga ahir wafat beliau pada tahun 1277 H.
            Kesibukanya sebagai rector dan guru besar Al-Azhar tidak menghalangi beliau untuk menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat dan ditunggu-tunggu kehadiranya oleh para santri sejak masa hidupnya sampai setelah puluhan bahkan ratusan tahun dari meninggal beliau. Bukan saja santri-santri dari Indonesia, melainkan juga dari belahan dunia islam yang lain.
            Disebutkan dalam manakibnya beliau adalah Salah seorang ulama yang amat menyintai  dzurriyatur Rosul SAW. Dan rajin mengunjungi para beliau baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Sebagai salah satu bukti  bisa kita lihat pada bagian ahir dari salah satu  karyanya, hasyiah ala syarh Ibn qosim. Disana  tampak kecintaan beliau pada ahli bait Nabi SAW dan semangatnya  bertabarruk dengan para beliau dan para sholihin khususnya sayyid Ahmad Albadawi Rodhiyallohum.
            Di sana  beliau secara khusus menyarankan pada siapapun yang menghatamkan hasyiahnya tersebut untuk membacakan hadiah Fatihah pada Sayyid Ahmad Al-Badawi yang kebetulan selesainya beliau dalam merampungkan kitab tersebut bertepatan dengan hari houl Al-Badawi. Itu pula barangkali yang menjadikan karya-karya beliau banyak disambut baik para pelajar dan terasa betul manfaatnya hingga sekarang.
            Ketauladanan lainya adalah pemanfaatan waktu yang tiada sedikitpun terbuang percuma. Lidahnya senantiasa basah dengan dzikir dan membaca Al-Qur’an sebagai ungkapan syukur atas karunia-karunia yang beliau dapatkan. Nafa’ana Allohu bihi wabi’ulumih amin
Karya-karya beliau selain hasyiah ala syarh Ibn Qosim diantaranya:
1-      Tuhfatul Murid ala Jauharotut Tauhid
2-      Hasyiah ala nadzmil burdah
3-      Hasyiah ala matni sullam lil Akhdhory
4-      Fathul khobir Al-Lathif
5-      Tahqiqil maqom hasyiah ala Kifayatil ‘awam
6-      Hasyiah ala matni Assyamail
7-      Hasyiah ala Assyansyuriah fil Faroidh
8-      Syarah Nadlom Imrithi
9-      Qothrul ghoits
10-  Hasyiah ala maulid
Sumber-sumber:
-          حلية البشر في تاريخ القرن الثالث عشر
-           
Catatan:

Tentang : Trio tunggal: abi syuja’, Ibn Qosim dan bajury.

            Bila goresan tinta Ibn qosim menjadikan taqrib yang mungil menjadi tampak lebih cantik maka sentuhan Albajury menyempurnakan kecantikan itu hingga lebih menarik dan bersinar. Begitulah gambaran kasar perpaduan karya tiga ulama besar Abi Syuja’, Ibn Qosim dan Bajury.
Dalam prolog yang selalu beliau sisipkan diawal setiap bab memberikan gambaran pada kita pokok-pokok pembahasan yang akan menjadi kajian bab perbab, disamping juga dasar-dasar hukum yang dijadikan istimbat baik dari Al-Qur’an maupun hadits. Begitu pula pembahasan arkan (komponen-komponen pokok) terutama dalam muamalah yang luput dari perhatian Ibn qosim dikupas termasuk koreksi atas redaksi sekira diperlukan.
            Koreksi yang beliau lakukan tidak jarang ‘menyerang’ pada komentar yang dilakukan syarh dan mendukung redaksi asal atau matan. Bahkan melompat dengan mengkritisi penjelasan yang diberikan syarih yang lain. Seperti bisa dilihat pada bab aiman wan nudzur ketika mengulas nadzar mubah yang sempat mengkritisi redaksi Assyirbini dalam Al-Iqna’. Seperti halnya koreksi beliau pada penjelasan Ibn Qosim selain sisi redaksi sebagai contoh bisa dilihat dalam pembahasan  nafaqoh walidain
            Namun demikian pada dasarnya Bajury selalu mencoba memberikan pembelaan pada redaksi yang ada selama mungkin baik redaksi matan maupun syarh. Seperti bisa dilihat komentar beliau pada pembahasan jual beli buah yang belum masak yang kajianya disisipkan dalam fasal khiyar. Seperti halnya penyempurnaan yang banyak beliau lakukan dengan tanpa menyinggung redaksi matan maupun syarh.
            Ada warna lain dalam hasyiah bajury dari kebanyakan hasyiah yang muncul di eranya. Bajury tidak banyak menyebut nama-nama rujukan maupun kitab para ulama seperti yang banyak kita temui dalam I’anah, hawasyil madaniyyah, syarwani dsb. Dalam beberapa kasus beliau berusaha mencarikan solusi pembebasan dari taklif yang dirasa teramat berat seperti dalam kasus nadlor lilajnabiyyah. Bahkan dalam udhhiyyah dan aqiqoh
            Pembelaan pada perempuan juga dilakukan dengan memaparkan keharusan mut’ah (uang obat kecewa) bagi istri yang dicerai yang tidak sempat terbahas dalam syarh. Lebih jauh beliau memaklumatkan untuk disosialisasikan pada pada para ibu karena ini adalah hak mereka dimana banyak dari mereka yang tidak memahaminya. Pembelaan ini bisa dilihat pada ahir bab kajian mas kawin.
            Penulusuran pada karya trio tunggal ini memang benar-benar mengasyikkan terlebih bila kita tertarik dengan kajian beliau dari sisi lughot yang banyak kita temukan didalamnya hal-hal baru yang terkadang  sulit kita temukan dalam kitab-kitab nahwu seperti urainya akan keabsahan kalimat: abdan qoimatan wa amatan qoiman. Begitu pula kajian ushul fiqh yang sering beliau sisipkan dan sesekali tentang manthiq.
            Tepatlah kiranya apa yang dipesankan sebagian guru bila ingin faham tentang fiqh pahamilah Fathul qorib. Hasyiah Bajuri adalah pemegang kunci menuju ke sana. Buah karya trio tunggal ini telah mengantarkan ribuan santri menuju pemahaman fiqh yang menyeluruh hingga dengan kata lain mereka mendapatkan futuh.
Jazahumulloh ‘anna khoirol jaza’
 
http://fafank-irfan.blogspot.com/2010/12/biografi-ulama-pengarang-kitab-kitab.html

SIAPAKAH PENGARANG KITAB TAQRIB???

Beliau lahir pada  tahun 433 H jauh sebelum eranya Imam Nawawi maupun Rofi’i bahkan sebelum imam Ghozali. Beliau mendapat karunia umur panjang hingga 160 tahun, namun demikian tak satu anggota badanpun yang mengalami gangguan. Ketika beliau ditanyai karunia yang demikian beliau menjawab: “Aku selalu berusaha menjaga anggota badanku sejak kecil tidak pernah aku gunakan dalam kemaksiatan. Karenanya Alloh menjaganya pada saat aku memasuki usia senja.”



Pada tahun 447 menjabat sebagai qodhi di kota Ashfihan. Dengan jabatanya beliau menebarkan keadilan dan kebenaran ke seluruh pelosok negeri  hingga dikenal luas. Kesibukan dan tugasnya sebagai Qodhi tidak melupakan semangat taqorrub dan ibadahnya pada Alloh SWT. Setiap hari sebelum keluar dari rumah beliau melakukan sholat dan membaca Alqur’an.
Begitupun dalam melaksanakan tugas dengan teguh berpegang pada kebenaran tanpa hawatir akan celaan dan cercaan orang, tiada mengenal kompromi ketika harus menegakkan kebenaran  sekalipun itu harus dibayar dengan mahal dan taruhan jabatan.
Keteguhan hati beliau dalam membela kebenaran didukung oleh kelapangan sisi ekonomi. Tentang kekayaan beliau ini ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau memiliki sepuluh orang karyawan yang husus mendapat tugas untuk membagikan zakat dan shodaqohnya pada para mustahiqqin, dimana masing-masing membagikan seribu dua puluh lima dinar. Orang-orang sholeh dan para cendikia mendapat prioritas s4hingga mereka merasakan betul kemurahan Abi syuja’.
Kekayaannya yang demikian tidak menjadikanya lalai dan hanyut dalam kenikmatan. Kebeningan hatinya selalu mengusik untuk terus berpikir apa makna dari kehidupan dunia yang fana ini? Sampai ahirnya beliau memilih untuk hidup dalam kezuhudan yang jauh dari gemerlap dan indahnya dunia. Ashfihan yang telah banyak memberikan warna baginya beliau tinggalkan dan mengembara menuju kota madinah Almunawwaroh. Di sana beliau mengabdikan hidupnya untuk melayani kebutuhan makam sang idolanya,   Rosululloh SAW. Menyapu masjid, membersihkan dinding makam menyalakan lampu dan sebagainya. Semua dijalani dengan penuh rasa puas dan bangga, sehingga pada suatu ketika orang-orang Ashfihan yang telah mengenalnya berziarah dan menyaksikan beliau di sana terperanjat dan menyapa: “wahai qodhi Abi Syuja!” beliau menjawab dengan tersenyum: “ ketahuilah saya bukan lagi Qodhi saya hanyalah seorang tukang sapu makam Rosululloh SAW”
Rutinitas sebagai penjaga dan tukang sapu makam beliau lakukan hingga ahir hayat beliau. Layaklah kiranya kalau kemudian salah satu karya beliau menjadi demikian luas dan manfaat hingga hampir-hampir menjadi kitab wajib bagi semua yang ingin mendalami ilmu agama. Nafa’ana Allohu bihi wabi’ulumih amin
Sumber-sumber: Tausyeh ‘ala ibn Qosim:
http://fafank-irfan.blogspot.com/2010/12/biografi-ulama-pengarang-kitab-kitab.html

SIAPA ITU PENGARANG KITAB FATHUL MUIN?

Tak banyak riwayat yang menjelaskan ketokohan dari Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari, ulama asal Malabar, India Selatan ini. Kalau ada, itu hanya sebatas mengungkapkan keterangannya dalam berbagai karya yang ditulisnya. Tak diketahui secara persis, kapan Syekh Zainuddin Al-Malibari lahir. Bahkan, wafatnya pun muncul berbagai pendapat. Ia diperkirakan meninggal dunia sekitar tahun 970-990 H dan di makamkan di pinggiran kora Ponani, India.
Syekh Zainuddin Al-Malibari merupakan keturunan bangsa Arab. Ia dikenal pula dengan nama Makhdum Thangal. Julukan ini dikaitkan dengan daerah tempat dirinya tinggal. Ada yang menyebutny dengan nama Zainuddin Makhdum, atau Zainuddin Thangal atau Makhdum Thangal. Julukan ini mencerminkan keutamaan dan penghormatan masyarakat setempat kepada dirinya.
Masjid Agung Ponani atau Funani, adalah masjid Agung yang pertama kali dibangun oleh Makhdum Thangal. Ia termasuk seorang ulama yang mengikuti madzhab Syafi’i. Tidak seperti masjid masa kini, Masjid Agung Ponani ini menggabungkan arsitektur lokal dengan arsitektur Hindu. Hal ini dikarenakan, Islam masuk ke India yang dibawa oleh pedagang Arab yang datang melalui laut dan diterima oleh raja-raja Hindu setempat. Makam Syekh Zainuddin Al-Malibari terletak di samping masjid. Tak hanya arsitektur masjid, masyarakat Muslim di India ini juga mengadopsi gaya bangunan, pakaian dan makanan dengan menyesuaikan pada kondisi yang ada.
Syekh Zainuddin Al-Malibari, selain dikenal sebagai ulama fikih, ia juga dikenal sebagai ahli tasawuf, sejarah dan sastra. Karyanya Fath al-Mu’in (Pintu Pertolongan), adalah syarah (komentar) atas kitab Qurrat al-Ayn Hidayat al-Azkiya ila Thariq al-Auliya, serta Irsyad Al-Ibad ila Sabili al-Rasyad, dan Tuhfat al-Mujahidin.
Seperti kebanyakan ulama lainnya, Syekh Zainuddin Al-Malibari juga dikenal sebagai ulama yang sangat tegas, kritis, konsisten, dan memiliki pendirian yang teguh. Ia pernah menjadi seorang hakim dan penasehat kerajaan, dan diplomat.

KAROMAH ABAH ANOM


Diceritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti namanya Kyai Jured.

Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.

Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan satu bis yang membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar Pesantren Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak disangka Abah Anom sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk masuk ke madrasah Abah Anom bersama 70 santrinya yang telah disebar. Kiai tersebut merasa kaget akan kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid TQN. Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan dahulu yang telah Beliau sediakan di madrasah.

Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantren Beliau yang sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus tentang kekurangan pesantrenya yaitu tidak adanya burung cendrawasih, burung yang terkenal akan bulunya yang indah. Beliau hanya tersenyum dan menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu di luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang berbulu indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap. Kejadian itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau, Kiai itu diam seribu bahasa.

Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis.

Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja, setelah makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat kopeah/peci yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para santrinya tidak terangkat sedikitpun. Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang.

Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Abah Anom untuk memukulnya sebagaimana yang telah dicontohkannya.

Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa apa-apa, baiklah” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Abah dan batu itu menjadi air ,subhanallah…

Kiai menguji lagi karomah Abah Anom dengan kelapa yang telah dibawa santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Abah Anom agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan bentuk tertentu.

Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa .
Selanjutnya Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita memohon kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah berdoa Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin Allah didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang kiai. Subhanalllah…

Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom sudah ada ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan kelangit-langit madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari langit-langit burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau

Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Abah Anom Akhirnya Kiai memohon kepada Abah Anom untuk diangkat menjadi muridnya.

Kiai itu ditalqin dzikir TQN Setelah ditalqin Kiai menangis dipangkuan Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari tidur sudah berada dimesjid. Subhanallah….
Sumber:yovitaku.blogspot.com.

KAROMAH ABUYA DIMYATI BANTEN

Karomah Abuya Dimyati Cidahu, Pandeglang

KH.Muhammad Dimyati yang biasa dipanggil dengan Buya Dimyati merupakan sosok Ulama Banten yang memiliki karismatik, beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H. Amin dan Hj. Ruqayah. Sejak kecil Buya Dimyati sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pon-pes Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon.

Buya Dimyati sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tapi juga menjalankan kehidupan dengan metode bertashauf, tarekat yang di anutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’,istiqomah ,zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya di pesantren selalu di tolak dengan halus oleh Buya Dimyati begitupun ketika beliau di beri sumbangan oleh para pejabat beliau selalu menolak dan mengembalikan sumbangan tersebut, hal ini pernah dialami ketika Buya Dimyati di beri sumbangan Oleh Mba Tutut ( Anak Mantan presiden Soeharto) sebesar 1 milyar beliau mengembalikannya.

Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin ja”far assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyaklagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren.

Masa kecil Abuya dihabiskan di kampung kelahirannya; Kalahang. Awal menuntut ilmu, Abuya dididik langsung oleh ayahandanya, Syaikh Muhammad Amin bin Dalin. Lalu melanjutkan berkelana menuntut ilmu agama, sampai-sampai dalam usia sudah setengah baya. Di sekitar tahun 1967-1968 M, beliau berangkat mondok lagi bersama putra pertama dan beberapa santri beliau (hal. 168).

Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyathi, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.

Karomah.

Mahasuci Allah yang tidak membuat penanda atas wali-Nya kecuali dengan penanda atas diri-Nya. Dan Dia tidak mempertemukan dengan mereka kecuali orang yang Dia kehendaki untuk sampai kepada-Nya. (al Hikam)

Wallahu a’lam. Ada banyak cerita tak masuk akal dalam buku ini, namun kadar ”gula-gula” tidaklah terasa sebab penitikberatan segala kisah perjuangan Abuya lebih diambil dari orang-orang yang menjadi saksi hidupnya (kebanyakan dari mereka masih hidup) dan dituturkan apa adanya. Abuya memang sudah masyhur wira’i dan topo dunyo semenjak masih mondok diusia muda. Di waktu mondok, Abuya sudah terbiasa tirakat, tidak pernah terlihat tidur dan istimewanya adalah menu makan Abuya yang hanya sekedar. Beliau selalu menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, baik dengan mengaji, mengajar atau mutola’ah. Sampai sudah menetap pun Abuya masih menjalankan keistiqamahannya itu dan tidak dikurangi bahkan ditambah.

Di tahun 1999 M, dunia dibuat geger, seorang kiai membacakan kitab tafsir Ibnu Jarir yang tebalnya 30 jilid. Banyak yang tidak percaya si pengajar dapat merampungkannya, tapi berkat ketelatenan Abuya pengajian itu dapat khatam tahun 2003 M. Beliau membacakan tafsir Ibnu Jarir itu setelah Khatam 4 kali khatam membacakan Tafsir Ibnu katsir (4 jilid).

Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir lagi adalah, di mana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Ketika itu, kyai tersebut merasa sangat bangga kerana banyak kyai di Indonesia paling jauh mereka ziarah adalah maqam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dia dapat menziarahi sampai ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. ketika sampai di maqam tersebut, maka penjaga maqam bertanya padanya, "Dari mana kamu (Bahasa Arab)?" Si Kyai menjawab, "Dari Indonesia." Maka penjaganya langsung bilang, "Oh di sini ada setiap malam Juma'at seorang ulama Indonesia yang kalau datang ziarah dan duduk saja depan maqam, maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliau, sehinggalah beliau mula membaca al-Qur'an, maka penziarah lain akan meneruskan bacaan mereka sendiri-sendiri.

Mendengar hal itu Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam jumaat agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyati. Maka kyai tersebut terus kagum, dan ketika pulang ke Jawa, dia menceritakan bagaimana beliau bertemu Abuya Dimyati di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ketika itu Abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri-santrinya.

Cerita-cerita lain tentang karomah Abuya, dituturkan dan membuat kita berdecak kagum. Subhanallah! Misal seperti; masa perjuangan kemerdekaan dimana Abuya di garis terdepan menentang penjajahan; kisah kereta api yang tiba-tiba berhenti sewaktu akan menabrak Abuya di Surabaya; kisah angin mamiri diutus membawa surat ke KH Rukyat. Ada lagi kisah Abuya bisa membaca pikiran orang; kisah nyata beberapa orang yang melihat dan bahkan berbincang dengan Abuya di Makkah padahal Abuya telah meninggal dunia. Bahkan kisah dari timur tengah yang mengatakan bahwa Abuya tiap malam jumat ziarah di makam Syech Abdul Qodir al Jailani dan hal-hal lain yang tidak masuk akal tapi benar terjadinya dan ada (berikut saksi-saksi hidupnya).

Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin ja”far assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren

Tanggal 3 october 2003 tepat hari jum’at dini hari KH.Muhammad Dimyati dipanggil oleh Alloh SWT keharibaannya. Banten telah kehilangan sosok ulama yang karismatik dan tawadhu’yang menjadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan hanya dari masyarakat Banten saja tapi juga umat islam pada umumnya. Beliau dimaqomkan tak jauh dari rumahnya di Cidahu Pandeglang. Hingga kini maqom tersebut selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di tanah air.

Atas meninggalnya ulama krismatik di Desa Cidahu, Cadasari, Pandeglang-Banten, KH Abuya Muhammad Dimyati, hari Jum'at (3/10) umat Islam sangat kehilangan. Ulama besar yang jadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan saja masyarakat Banten yang kehilangan, namun umat Islam umumnya.

Kepada ruh beliau mari kita baca fatihah.. ila hadoroti ruhi, Al-fatihah..
SUMBER BERITA DISINI 

ABUYA DIMYATI: TAREKAT AING MAH NGAJI

Ulama dan guru tarekat yang ‘alim dan wara’ di Banten. Nama lengkapnya adalah KH. Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Banteni yang biasa dipanggil dengan Abuya Dimyati, atau oleh kalangan santri Jawa akrab dipanggil “Mbah Dim”.

Lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyati sudah menampakan kecerdasan dan keshalihannya. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, menjelajah tanah Jawa hingga ke pulau Lombok demi memenuhi pundi-pundi keilmuannya.

Kepopuleran Mbah Dim setara dengan Abuya Busthomi (Cisantri) dan kiai Munfasir (Cihomas). Mbah Dim adalah tokoh yang senantiasa menjadi pusat perhatian, yang justru ketika dia lebih ingin “menyedikitkan” bergaul dengan makhluk demi mengisi sebagian besar waktunya dengan ngaji dan ber-tawajjuh ke hadratillah.

Sebagai misal, siapakah yang tidak kecil nyalinya, ketika begitu para santri keluar dari shalat jama’ah shubuh, ternyata di luar telah menanti dan berdesak-desakan para tamu (sepanjang 100 meter lebih) yang ingin bertemu Mbah Dim. Hal ini terjadi hampir setiap hari.

Para peziarah Walisanga yang tour keliling Jawa, semisal para peziarah dari Malang, Jember, ataupun Madura, merasa seakan belum lengkap jika belum mengunjungi ulama Cidahu ini, untuk sekadar melihat wajah Mbah Dim; untuk sekadar ber-mushafahah (bersalaman), atau meminta air dan berkah doa.

Mbah Dim menekankan pada pentingnya ngaji dan belajar, yang itu sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim kepada para santri dan kiai adalah jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain ataupun karena umur. Sebab, ngaji tidak dibatasi umur. Sampai-sampai, kata Mbah Dim, thariqah aing mah ngaji!, yang artinya ngaji dan belajar adalah thariqahku.

Bahkan kepada putera-puterinya (termasuk juga kepada santri-santrinya) Mbah Dim menekankan arti penting jama’ah dan ngaji sehingga seakan-akan mencapai derajat wajib. Artinya, tidak boleh ditawar bagi santri, apalagi putera-puterinya.

Mbah Dim tidak akan memulai shalat dan ngaji, kecuali putera-puterinya—yang seluruhnya adalah seorang hafidz (hafal Al-Qur’an) itu sudah berada rapi, berjajar di barisan (shaf) shalat. Jika belum dating, maka kentongan sebagai isyarat waktu shalat pun dipukul lagi bertalu-talu. Sampai semua hadir, dan shalat jama’ah pun dimulai.

Mbah Dim merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965, dan telah banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja’far Assegaf yang sekarang memimpin Majelis Nurul Musthofa di Jakarta. Dalam bidang tasawuf, Mbah Dim menganut tarekat Qodiriyyah-Naqsabandiyyah dari Syeikh Abdul Halim Kalahan. Tetapi praktik suluk dan tarekat, kepada jama’ah-jama’ah Mbah Dim hanya mengajarkan Thariqah Syadziliyah dari syekh Dalhar.

Itu sebabnya, dalam perilaku sehari-hari ia tampak tawadhu’, zuhud dan ikhlas.
Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya di pesantren selalu di tolak dengan halus oleh Mbah Dim, begitu pun ketika ia diberi sumbangan oleh para pejabat selalu ditolak dan dikembalikan sumbangan tersebut. Hal ini pernah menimpa Mbak Tutut (Anak Mantan presiden Soeharto) yang member sumbangan sebesar 1 milyar, tetapi oleh Mbah Dim dikembalikan.

Tanggal 3 Oktober 2003 tepat hari Jum’at dini hari Mbah Dim dipanggil oleh Allah SWT ke haribaan-Nya. Banten telah kehilangan sosok ulama kharismatik dan tawadhu’ yang menjadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihat.

Bukan hanya masyarakat Banten, tapi juga umat Islam pada umumnya merasa kehilangan. Ia di makamkan tidak jauh dari rumahnya di Cidahu Pandeglang, dan hingga kini makamnya selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di Tanah Air.
Lihat sumber

Agen Property Banten Terpercaya, Kami Menjual Lebih Dari Puluhan Property

Kami menjual tanah 10 hektar sampai puluhan ribu hektar,
rumah, kandang ternak ayam, tanah wisata, tanah banyak pohonnya, sawah, gudang DLL
kami telah menjual puluhan property di daerah Pandeglang, bagi siapa saja yang membutuhkan lahan, tanah, rumah atau property lainnya bisa menghubungi kami sms/telp 081219111164
lebih enak anda datang ke tempat kami tanpa perantara,
no tipu-tipu, anda sms/telp. kita ketemuan. dan deal....
Klik di sini


MENJUAL KITAB SALAF KERTAS KUNING INDONESIA *

Klik Disini 

   1. Abi Jamrah; Rp. 35.000,-
   2. Al Adzkar; Rp. 36.000,-
   3. Al Mizan Kubro; Rp. 52.000,-
   4. Al Asbah Wan-Nadhoir; Rp. 42.000,-
   5. Alkawakib Ad Durriyyah; Rp. 35.000,-
   6. Bajuri 2 Jilid; Rp. 105.000,-
   7. Bidayatul Mujtahid; Rp. 81.000,-
   8. Bulughul Maram ;lux; 354 halaman; Rp. 45.000,-
   9. Bulughul Maram Tanggung ; lux; 840 halaman; Rp. 35.000,-
  10. Chazinatul Asror;lux; 200 halaman; Rp. 31.000,-
  11. Dahlan Alfiyah; lux ;  Rp. 34.000,-
  12. Dalailul Khoirot Kuning;  Rp. 17.000,-
  13. Dasuki; Rp. 36.000,-
  14. Durratun-Nasihin Besar ; Rp. 40.000,-
  15. Durratun-Nasihin Tanggung; Rp. 35.000,-
  16. Fatchul Mu'in; lux;  Rp. 27.500,-
  17. Fatchul Wahab; ; Rp. 60.000,-
  18. Hikam; Lux;  Rp. 32.500,-
  19. Ianah Thalibin 4 Jilid; ; Rp. 175.000,-
  20. Ibnu Aqil Lux; Rp. 34.000,-
  21. Ibnu Hamdun; Rp. 55.000,-
  22. Ibnu Katsir 4 Jilid;; Rp. 275.000,-
  23. Ibnu Majjah;; Rp. 175.000,-
  24. Ihya' Ulumuddin 4 Jilid; Rp. 210.000,-
  25. Inarotud Duja; Rp. 31.000,-
  26. Iqna; Rp. 70.000,-
  27. Jalain Kurasan; Rp. 55.000,-
  28. Jalain Lux;  Rp. 65.000,-
  29. Jam'ul Jawami'; 105.000,-
  30. Jam'ush-Shoghiir; 792 halaman; Rp. 89.750,-
  31. Jawahirul Bukhary; 576 halaman; Rp. 55.000,-
  32. Khudory; 470 halaman; Rp. 58.000,-
  33. Kifayatul Akhyar; 632 halaman; Rp. 51.000,-
  34. Masailul Muhtadi; 32 halaman; 2.000,-
  35. Muhaddab 2 Jilid; 856 halaman; Rp. 104.000,-
  36. Muhtarol Hadits; 208 halaman; Rp. 32.500,-
  37. Muhtarol Hadits Duplek; 208 halaman; Rp. 22.500,-
  38. Muwatha (TanwirulKhawalik); 900 halaman; Rp. 75.000.-
  39. Nihayatu Zaen; 400 halaman; Rp. 50.000,-
  40. Nurul Yaqin; 312 halaman; Rp. 35.000,-
  41. Qulyubi 4 Jilid; 1.456 halaman; Rp. 190.000,-
  42. Riyadus-Shalihin Kuning; 722 halaman; Rp. 52.500,-
  43. Riyadus-Shalihin Putih; 722 halaman; Rp. 52.500,-
  44. Shahih Bukhary Masykul Putih 3 Jilid; 2.148 halaman; Rp. 255.000,-
  45. Shahih Bukhary Masykul Crem 3 Jilid; 2.148 halaman; Rp. 255.000,-
  46. Shahih Bukhary Masykul Kuning 4 Jilid; 1.970 hal; Rp. 250.000,-
  47. Shahih Bukhary Sindi Kuning 4 Jilid; 1.340 halaman; Rp. 185.000,-
  48. Sabilal Muhtadin Putih; 526 halaman; Rp. 65.000,-
  49. Samsu Ma'arif; 592 halaman; Rp. 80.000,-
  50. Shahih Muslim Masykul putih 4 Jilid;   halaman; Rp. 190.000,-
  51. Shahih Muslim 2 Jilid; 1.476 halaman; Rp. 115.000,-
  52. Sirussalikin 2 Jilid; 972 halaman; Rp. 110.000,-
  53. Subulussalam; 972 halaman; Rp. 105.000,-
  54. Sunan Nasa'i; 2.288 halaman; Rp. 225.000,-
  55. Sunan Tirmidzi Kuning; 2.020 halaman; Rp. 215.000,-
  56. Sunan Tirmidzi Putih; 2.020 halaman; Rp. 215.000,-
  57. Tafsir Munir 2 Jilid; 988 halaman; Rp. 120.000,-
  58. Tafsir Showi 4 Jilid; 1.476 halaman; Rp. 195.000,-
  59. Tajridussorih; 278 halaman; Rp. 44.500,-
  60. Tanbihul Ghafilin; 238 halaman; Rp. 41.000,-
  61. Tanwirul Qulub; 616 halaman; Rp. 47.500,-
  62. Tasywikul Khilan Lux; 224 halaman; Rp. 39.500,-
  63. Tauseh Lux; 304 halaman; Rp. 46.250,-

__________________________________



* Harga sewaktu-waktu bisa berubah tanpa pemberitahuan lebih dulu
* Kitab akan kami cari jika tidak ada di toko kami
* Karena kesibukan, mohon maaf jika telp anda tidak diangkat
* Harga kitab diatas belum termasuk ongkir kedaerah anda