Recents in Beach

header ads

cecep

Siang itu matahari sedang terik-teriknya ketika derak langkah di teras membuyarkan lamunanku. Seorang lelaki setengah baya dengan senyum manis dan pakaian rapi melangkah masuk.
"Kuring, Kang Cecep dari Mandalasari," katanya penuh tata krama, menjabat tanganku erat sekali.
"Aya naon, Kang? Butuh bantuan apa?" tanyaku sambil menyodorkan teh.
Dengan raut wajah serius tapi penuh harap, ia mendekat dan berbisik. "Saya butuh bantuan, Kang. Ini... saya mau jual tanah 350 hektar."
Aku menatap cangkir teh yang masih berasap. Angka 350 hektar itu bukan main-main, tapi di duniaku, perkataan orang yang baru datang dengan obral manis begini harus disaring dulu.
"Oh, ya wis... ntar aku ngawirid dulu," jawabku setengah bercanda, menanggapi proyek raksasa yang mendadak jatuh dari langit Mandalasari itu.
***
Belum sempat doa atau wirid itu selesai terucap, telepon genggamku berdering. Di ujung telepon, suara seorang wanita terdengar begitu luwes dan meyakinkan.
"Selamat siang, saya Bu Sri dari pihak bank. Saya dapat informasi mengenai lahan yang sedang diolah..."
Singkat cerita, kesepakatan dibuat. Kami bertiga bertemu di sebuah tempat—aku, Kang Cecep, dan Bu Sri. Bu Sri tampil meyakinkan dengan dokumen-dokumen tebal di mapnya. Katanya, pihak pembeli utama akan langsung didatangkan oleh sang manajer bank sendiri.
"Nanti yang datang Manajer Bank-nya langsung, Pak Diwantara namanya," tutur Bu Sri penuh kesopanan, mengangguk-angguk anggun.
Pak Diwantara akhirnya tiba. Suasana makin riuh oleh istilah perbankan, akuisisi, dan surat izin modal. Tapi ada satu hal yang ajaib: entah bagaimana proses obrolan itu berjalan, angka 350 hektar yang dibawa Kang Cecep mendadak membengkak drastis di meja perundingan menjadi 3.000 hektar.
Anehnya, kesepakatan justru tercapai di angka raksasa itu. Deal!
Hilang Tanpa Jejak
Namun, begitu kata deal terucap dan permainan angka 3.000 hektar itu selesai, si aktor utama justru memainkan drama baru. Kang Cecep mendadak menghilang bak ditelan bumi.
Mainnya kurang rapi. Padahal urusan pembeli dan pihak bank sudah beres di meja, tapi sang 'pemilik skenario' malah kabur duluan.
"Waduh, Bu Sri... itu gimana ya? Mana Kang Cecep katanya lagi di Jakarta..." kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat situasi yang makin absurd.
Bu Sri cuma bisa gigit jari. Telepon ke Kang Cecep nihil, keberadaannya tidak jelas, dan koordinasinya berantakan. Niat hati mau eksekusi proyek raksasa, tapi eksekutor utamanya malah kabur duluan karena mainnya acak-acakan.
Atuh bubar! Ges mah Cecep-na kurang rapi.