Recents in Beach

header ads

Ungaran

Rintik hujan tipis-tipis mulai membasahi paving blok kawasan Kota Lama Semarang. Bangunan-bangunan berarsitektur kolonial berdiri megah namun bisu, memantulkan cahaya lampu jalanan yang remang keperakan. Di balik lengkung jendela-jendela besar era VOC itu, sejarah seolah terus berbisik, menatap orang-orang yang lalu-lalang di bawahnya.

Aku merapatkan jaket, membenahi posisi ransel di bahu. Jalanku agak terburu-buru menuju titik jemput. Malam makin larut, dan aku harus segera mengejar kendaraan menuju Ungaran sebelum hawa dingin pegunungan di sana keburu menyelimuti seluruh jalanan menanjak.

"Mas... mau ke mana?"

Sebuah suara lembut memotong derap langkahku. Suara itu begitu jernih, mengalir di antara desir angin malam Kota Lama.

Aku menoleh. Di bawah naungan atap salah satu gedung tua, berdiri seorang perempuan. Dia sangat cantik—jenis kecantikan yang seolah tak terikat oleh zaman. Rambut hitamnya terurai sedikit basah oleh embun, matanya berbinar menatapku, dan senyum tipis terukir di bibirnya. Dalam remang malam, dia tampak seperti lukisan klasik yang mendadak hidup.

"Mau ke Ungaran," jawabku pelut, menghentikan langkah beberapa meter darinya.

Dia melangkah mendekat, pelan dan anggun. Keharuman samar—seperti aroma bunga melati bercampur tanah basah—menguar mengikuti jalurnya.

"Gak mampir dulu, Mas?" tanyanya lagi. Nadanya manis, sarat ajakan yang begitu halus hingga sanggup menahan langkah siapa saja yang mendengarnya.

Jantungku berdegup makin kencang. Ada godaan besar untuk mengangguk, melangkah mendekatinya, dan membiarkan malam menyapu seluruh rencanaku. Semarang malam ini begitu magis, dan ajakan itu terasa seperti pintu masuk menuju dunia yang lain.

Namun, di dalam dadaku, sebuah kesadaran mendadak berteriak nyaring. Ada garis batas lurus yang tak boleh dilanggar. Ada janji pada diri sendiri yang jauh lebih mahal daripada keindahan sesaat.

Aku menatap matanya dalam-dalam, menahan getar di suaraku, lalu menggeleng pelan.

"Jangan merusak saya..." ucapku singkat namun tegas.

Perempuan itu terpaku. Senyum manisnya tertahan di udara, dan untuk sejurus, tatapannya berubah menjadi keheranan yang dalam. Dia mungkin terbiasa melihat orang-orang menyerah pada pesonanya, tapi malam ini, kata-kataku menjadi benteng yang tak bisa ditembus.

Tanpa menunggu balasannya, aku membalikkan badan dan kembali melangkah. Derap langkahku mantap menembus gerimis Kota Lama, meninggalkan bayangannya di balik pilar-pilar tua. Jalan menuju Ungaran masih panjang dan menanjak, tapi malam ini, jiwaku tetap utuh.