Recents in Beach

header ads

permen karet 3


Pak Jarwo melangkah mendekat dengan gaya berjalan ala komandan militer. Penggaris kayu satu meternya sesekali ditepukkan ke telapak tangan, menghasilkan bunyi PAK! PAK! yang sanggup membuat jantung murid mana pun serasa mau melompat keluar.
"Kalian bertiga ini ya... pagi-pagi bukannya masuk kelas malah jalan gandengan kayak mau menyeberang jalan raya!" tegur Pak Jarwo, matanya menyipit penuh curiga. "Terutama kamu, Reno! Kenapa posisi badanmu aneh begitu? Kayak orang mau menari Jaipong tapi ketahann?"
Reno makin merapatkan tas ke pantatnya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya.
"Anu, Pak... Ini latihan ketangkasan otot pinggul," jawab Reno asal, sambil mencoba tersenyum semanis mungkin walau mukanya sudah sepucat kertas HVS. "Katanya bagus buat melatih kelenturan tubuh."
"Latihan gundulmu!" semprot Pak Jarwo. "Gusur! Kenapa kamu berdiri nempel banget di belakang Reno? Mau ngajak main kereta-keretaan?"
Gusur yang panik langsung membusungkan dadanya. "Bukan, Pak! Bagaikan dinding benteng yang kokoh, hamba hanya menjalankan tugas suci melindungi sahabat dari hembusan angin malam!"
"Hembusan angin malam matamu! Ini sudah jam delapan pagi!" gertak Pak Jarwo. "Minggir kamu, Gusur! Saya mau lihat ada apa di belakang Reno!"
Mata Boim melotot. Ini bahaya tingkat tinggi! Kalau Pak Jarwo melihat bokser polkadot merah jambu itu, Reno bukan cuma dapat poin pelanggaran, tapi juga bakal disuruh keliling lapangan sambil push-up.
"PAK JARWO! Awas ada ulat bulu raksasa di bahu Bapak!" teriak Boim tiba-tiba sambil menunjuk ke atas dengan heboh.
Pak Jarwo kaget dan refleks menengok ke bahunya sambil mengibaskan penggaris. "Mana?! Mana?!"
"SEKARANG, REN! LARI!" jerit Boim.
Tanpa memikirkan martabat lagi, Reno langsung melesat kencang menuju toilet siswa. Caranya lari sangat tidak estetis: satu tangan memegang erat tas di belakang, tangan satunya memegang celana bagian depan, dengan langkah kaki yang terbahak-bahak lebar.
"RENOOO! MAU KEMANA KAMU?!" teriak Pak Jarwo yang baru sadar kalau dirinya dikerjai. "KEMBALI GAK?!"
Nahasnya, tepat di depan tikungan toilet, Poppy sedang berjalan santai sambil membawa tumpukan buku.
Karena lari tanpa rem, Reno tak bisa menghentikan lajunya.
BRUUUKKK!
Reno berhasil menghindar sedikit agar tidak menabrak Poppy, tapi akibatnya ia terpeleset lantai toilet yang licin dan meluncur mulus seperti pemain bisbol yang ingin slide ke base.
Tas punggungnya terlepas dan terbang ke udara.
Reno mendarat telentang persis di depan kaki Poppy. Dan di sana, di hadapan Poppy yang terperangah kaget, robekan celana Reno membentang dengan sangat sempurna—menampilkan mahakarya motif polkadot merah jambu dalam segala keagungannya.
Hening sejenak.
Buku-buku di tangan Poppy hampir merosot. Matanya berkedip dua kali.
Reno yang masih telentang di lantai hanya bisa menatap langit-langit toilet dengan pasrah. Ditiupnya satu balon permen karet terakhir dari mulutnya.
POP!
"Hai, Poppy..." sapa Reno lemas dari lantai. "Pola polkadotnya bagus, kan? Ini... edisi terbatas."
Poppy yang tadinya terpaku, perlahan-lahan mulai menutup mulutnya. Detik berikutnya, tawa renyahnya pecah memenuhi koridor.
"Kamu... lucu banget sih," ujar Poppy sambil tertawa sampai matanya menyipit. "Tapi lain kali kalau mau pamer celana polkadot, pilih tempat yang agak adem ya?"
Dari balik tembok, Boim dan Gusur mengintip dengan mengelus dada. Boim menggeleng-gelengkan kepala.
"Gue gagal paham sama si Reno," bisik Boim ke Gusur. "Niatnya mau tebar pesona, malah tebar motif celana dalam. Tapi kok malah dinilai lucu sama Poppy?"
Gusur mengangguk-angguk bijak sambil mendesah puitis, "Itulah cinta, wahai Boim. Kadang ia datang dari arah yang tak disangka-sangka... dan dari celana yang robek sewaktu-waktu."