Recents in Beach

header ads

permen karet dan celana robek 2


Perjalanan bertiga dengan sepeda ontel sebenarnya berjalan lancar. Gusur mengayuh paling depan sambil menyanyikan lagu-lagu dangdut yang liriknya ia ubah sendiri jadi puisi makan siang, sementara Boim sibuk dadah-dadah ke setiap cewek berseragam SMA yang lewat di trotoar.
Sampai akhirnya, musibah itu datang di persimpangan Jalan Cendrawasih.
Di depan sebuah rumah pagar besi tinggi, berdiri seekor anjing Herder berbadan bongsor bernama Boni. Boni ini punya dendam kesumat sama siapa saja yang naik sepeda sambil tiup balon permen karet—akibat trauma masa kecilnya yang sering kaget kalau ada permen meletus.
"Ren, lu mending simpen dulu dah permen karet lu," bisik Boim waspada saat melihat Boni mulai memasang posisi kuda-kuda. "Mata tu anjing udah merah kayak lampu bangjo."
"Aman, Im. Anjing itu bisa merasakan ketakutan. Asal kita santai dan puitis, dia nggak akan..."
GUK! GUK GUK!
Belum sempat Reno menyelesaikan kalimatnya, Boni mendobrak pintu pagar yang ternyata cuma disandarkan. Anjing itu meloncat keluar dan langsung mengejar roda belakang sepeda Reno!
"KABURRRR!" teriak Gusur yang mendadak melesat paling cepat bak pembalap Formula 1, meninggalkan kesetiakawanan sosial di belakang.
"RENOOO! GUE DULUAN, SELAMATKAN DIRIMU!" jerit Boim sambil mengayuh sepedanya sampai rantainya mengeluarkan asap.
"WOI! JANGAN TINGGALIN GUE!" Reno panik setengah mati. Ia mengayuh pedal sepedanya sekuat tenaga. Tapi sialnya, saat Reno mencoba melompati genangan air di pinggir jalan, KREEEKKK!
Bunyi itu bukan bunyi rantai putus. Lebih tragis. Itu adalah bunyi celana seragam bagian belakang Reno yang robek membujur dari kiri ke kanan akibat tersangkut ujung jok sepeda yang sedikit mencuat.
Boni akhirnya berhenti mengejar karena merasa tugasnya menakut-nakuti manusia sudah tuntas. Tapi masalah Reno baru saja dimulai.
Tiba di Sekolah
Di depan gerbang sekolah, Boim dan Gusur sudah menunggu dengan napas terengah-engah. Begitu melihat Reno datang dengan gaya jalan yang sangat aneh—ngangkang sambil menempelkan tas punggungnya erat-erat di pantat—mereka berdua langsung curiga.
"Lu kenapa, Ren? Habis digigit Boni?" tanya Gusur prihatin.
"Lebih parah dari digigit," bisik Reno serak. Ia memutar sedikit badannya.
Melalui celah tas, terlihat angin angin pagi dengan bebas melintasi celana seragamnya yang terbuka lebar, memamerkan celana bokser bermotif gambar polkadot merah jambu.
Boim langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawa sampai mukanya membiru. "BHAHAHAHA! REN! Lu mau sekolah apa mau pertunjukan busana underwear?!"
"Diem lu, Im! Ini bencana nasional!" rangkul Reno panik. "Mana bel masuk sebentar lagi bunyi! Mana si Poppy murid baru itu ada di dekat mading lagi!"
Benar saja. Tak jauh dari gerbang, berdiri seorang cewek berambut sebahu dengan wajah manis sedang membaca pengumuman di mading. Dialah Poppy.
"Gini rencana kita," bisik Reno menginstruksikan. "Gusur, lu jalan di belakang gue buat nutupin pemandangan indah ini. Boim, lu jalan di depan buat ngebuka jalan. Kita harus sampai ke toilet dalam waktu dua menit sebelum Mami-nya sekolah (Alias Pak Guru Kedisiplinan) liat gue."
"Siap, Komandan!" ujar Gusur mantap. "Demi keselamatan bokser polkadotmu!"
Mereka bertiga pun membentuk formasi "Barisan Pengawal Celana Robek". Reno berjalan di tengah dengan cemas, Gusur menempel ketat di belakangnya bagaikan tembok berjalan, dan Boim memimpin di depan dengan gaya sok keren.
Namun, hukum alam komedi selalu berkata lain.
Baru lima langkah berjalan menuju toilet, dari arah tikungan koridor, muncul Pak Jarwo—guru bimbingan konseling paling killer se-kabupaten—sambil membawa penggaris kayu sepanjang satu meter.
"HOI! TIGA SERANGKAI!" bentak Pak Jarwo memanggil mereka. "Ngapain kalian jalan nempel-nempel gitu kayak kereta kelinci?!"
Reno, Boim, dan Gusur seketika membeku