Recents in Beach

header ads

permen karet dan celana robek


Pagi itu, mentari terbit dengan anggunnya. Burung-burung berkicau merdu, seolah memberi tahu dunia bahwa hari ini akan berjalan indah. Tapi bagi Reno, pagi itu tidak ada indah-indahnya sama sekali.
Reno—yang gaya rambutnya selalu berusaha mirip vokalis band terkenal walau hasilnya lebih mirip mangkok bakso terbalik—sedang berdiri di depan cermin kamar mandi. Tangannya sibuk mengunyah permen karet rasa stroberi sambil memandangi seragam SMA-nya.
"Luar biasa," gumam Reno penuh percaya diri. "Tingkat ketampanan gue hari ini naik 12 persen."
Ia meniup permen karetnya hingga membumbung besar. POP! Permen itu meletus dan menempel sempurna di hidungnya sendiri.
"Bagus," desah Reno pasrah sambil mengelupas bekas permen. "Awal yang sangat puitis."
"RENO! Cepetan keluar! Kamu mau narik angkot dulu apa gimana sih?" teriak Mami dari balik pintu dapur dengan nada suara yang sanggup merontokkan genteng rumah.
"Iya, Mi! Ini Reno lagi menyempurnakan mahakarya ciptaan Tuhan!" balas Reno keras-keras.
Di meja makan, Lala, adiknya yang masih SMP dan punya hobi utama menyiksa Reno, sudah siap dengan piring nasi gorengnya. Begitu melihat Reno jalan anggun mendekati meja, Lala langsung tertawa menyemburkan sedikit butiran nasi.
"Kenapa lu? Kesurupan?" tanya Reno curiga.
"Reno, itu rambut lu kok kayak habis disundul kambing?" celetuk Lala sambil memegang perutnya. "Btw, tadi Bang Gusur sama Bang Boim udah nungguin di depan gerbang. Katanya kalau lu lama, sepeda lu mau mereka jual kiloan."
Reno menepuk jidatnya. Ia lupa kalau hari ini ada tugas kelompok dan dia janji berangkat bareng dua sahabat karibnya yang kelakuannya mirip kera terpencil itu.
Di Depan Rumah
Di luar gerbang, berdiri dua makhluk ajaib. Gusur, cowok berbadan agak subur yang selalu merasa dirinya penyair ternama padahal puisi bikinannya cuma seputar makanan, dan Boim, cowok kerempeng yang gayanya paling necis sejagat raya tapi dompetnya lebih tipis dari tisu toilet.
"Lama banget sih lu, Ren!" semprot Boim sambil merapikan kerah bajunya yang ditegakkan. "Gue dari tadi udah ditatap heran sama ibu-ibu komplotan senam pagi. Dikira gue sales panci keliling."
Gusur ikut menimpali sambil mengelus perutnya, "Betul kata Boim, wahai sahabatku. Laksana pujangga menunggu ilham di pinggir jurang, perutku sudah melantunkan simfoni kerinduan akan ketoprak."
"Pagi-pagi jangan berpantun dulu, Sur. Otak gue belum terisi bensin," potong Reno sambil mengeluarkan sepedanya. "Lagian lu berdua ngapain ke rumah gue jam segini? Kan bel sekolah masih setengah jam lagi."
"Justru itu!" kata Boim dengan mata berbinar-binar. "Gue dengar hari ini ada murid baru di kelas sebelah. Katanya geulis pisan, Ren! Namanya Poppy. Gue harus sampai sekolah lebih awal buat tebar pesona. Siapa tahu dia butuh bimbingan rohani atau bimbingan belajar dari pria tampan kayak gue."
Reno menatap Boim dari atas sampai bawah. "Mending lu bimbing celana lu dulu tuh. Resletingnya belum tertutup rapat."
Boim seketika panik dan buru-buru membelakangi mereka. Gusur hanya tertawa berhak-hak sampai batuk-batuk.
"Sudahlah," ujar Reno sambil mengunyah permen karet barunya. "Yuk berangkat. Tapi ingat, kalau sampai sekolah, kalian jangan dekat-dekat gue. Gue ada reputasi yang harus dijaga."
"Reputasi apaan? Reputasi sering dihukum berdiri di bawah tiang bendera?" ejek Boim yang sudah selesai menyelesaikannya masalah celananya.
Mereka bertiga pun mengayuh sepeda bersama menyusuri jalanan kota yang mulai ramai. Tapi Reno tidak tahu, di tengah perjalanan menuju sekolah nanti, sebuah tragedi besar—yang melibatkan seekor anjing galak dan celana seragamnya—sudah menanti dengan setia.