Recents in Beach

header ads

nabi khidir

Cerita mimpi si Abid ini sangat menarik. Dalam tradisi literatur sufi dan keislaman, Gunung Qaf dan sosok Nabi Khidir AS sering kali menjadi simbol perjalanan spiritual (suluk) atau pencarian makna bathiniah.

Berikut adalah versi cerpen yang dirapikan dengan alur yang mengalir, namun tetap mempertahankan kejujuran cerita dan kata-kata khas yang diucapkan si Abid:

Perjalanan Malam si Abid

Siang itu, matahari bersinar lumayan terik. Si Abid duduk di samping saya, raut mukanya campuran antara heran, takjub, dan masih setengah ragu. Tiba-tiba dia menatap saya dan memulai percakapan.

"Saya bermimpi dibawa sama Nabi Khidir AS," kata Abid, matanya berbinar.

Saya menoleh, tertarik. "Dibawa ke mana?" tanya saya penasaran.

Abid menghela napas pendek, lalu mulai merajai ingatan dari mimpinya.

"Begini ceritanya," tutur Abid. "Di dalam mimpi itu, saya lagi mengendarai sebuah mobil. Jalannya berbelok-belok, mengular. Tapi anehnya, tiba-tiba saja saya sudah berada di sebuah kampung yang sangaaat asri. Di sana ada dua rumah yang berdiri saling berdampingan. Ada juga penjual jajanan khas desa."

Dia berhenti sejenak, membayangkan kembali pemandangan dalam tidurnya.

"Tepat di depan saya, ada sungai susukan—sungai kecil yang airnya jernih sekali. Bening. Nah, tiba-tiba saja sosok Nabi Khidir muncul di sana. Saya diajak masuk oleh beliau. Melihat saya yang ragu, beliau berbisik lembut, 'Ulah sieun...' (Jangan takut)."

"Terus?" potong saya, makin penasaran.

"Lalu saya melihat uap berwarna putih tebal," lanjut Abid. "Tanpa sadar, saya terbang bersama Nabi Khidir naik ke atas menembus uap itu. Dan tiba-tiba..."

Abid menepuk jidatnya sendiri, tertawa kecil penuh keheranan.

"... Lho, kok ini?! Saya kaget setengah mati pas mendarat. Saya ternyata berada di Gunung Qaf!"

"Lho, kok bisa kamu tahu itu Gunung Qaf?" tanya saya.

"Nggak tahu, di dalam mimpi itu rasanya saya langsung paham kalau itu Gunung Qaf," jawab Abid. "Gunung Qaf itu berdiri di atas sebuah batu besar berwarna putih. Di sana sama sekali tidak ada pepohonan, tidak ada angin kencang yang bertiup, dan langitnya berwarna hitam pekat tandanya sudah malam."

Abid mengerutkan dahi, mengingat keanehan dimensi waktu di mimpinya.

"Padahal tadi pas di kampung asri itu kan masih pagi, kok tiba-tiba di sini sudah berubah jadi malam?" gumam Abid mengulangi keheranannya saat di dalam mimpi. "Aneh banget..."

"Terus habis itu kamu ke mana lagi?" tanya saya menanti kelanjutan kisah ghaibnya.

Abid tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. "Nggak ke mana-mana lagi. Setelah tertegun melihat pemandangan Gunung Qaf yang hening itu... saya langsung terbangun."