TERJEMAH NASHOIHUL 'IBAD



Fasal 20 
Makalah ke dua puluh : (Dikatakan sesungguhnya kesempurnaan akal adalah mengikuti apa yang diridhai Allah
dan meninggalkan apa yang dimurkai Allah). artinya apa saja yang tidak seperti konsep di atas adalahkegilaan /
tak berakal.



Fasal 21Makalah  ke Dua puluh satu : (Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada tempat
yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka
sesungguhnyania akan dihormati diantarea manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja berada
layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati. Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalika nnya
meskipun di negeri sendiri mereka merasa asing.



Fasal 22Makalah  ke duapuluh dua : Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing
diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at
kepadan Allah maka ia akan terasing diantara manusia.



Fasal 23Makalah  ke Dua puluh tiga : (Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah
petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota badan menunjukkan / sebagai dalil
adanya kehidupan di dalamnya). Artinya, bahwa ekspresi  ketaatan serang hamba dalam menjalankan perintah
Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk /a dalil kema’rifatannya kepada ALlah. Apabila banyak amal
ta’at maka menunjukkan bahwa banyak pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka
menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir merupakan cermin dari apa yang ada di
dalam bathin.



Fasal 24Makalah  ke duapuluh empat : Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,) dan
yang dimaksud dari dumia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah
mencegah / tidak mau mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).



Fasal 25Makalah  ke Duapuluh lima : (Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji
dan mengakui akan kekurangan / kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tangda diteimanya amal
tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.



Fasal 26Makalah  ke Dua puluh enam : (Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur
ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan
sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan)
yaitu tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya
akhlak / keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.



Fasal 27Makalah ke Duapuluh tujuh : Disebutkan dalam syair….
Wahai yang disibukkan oleh dunia
Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka
Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah
Hingga dekatlah ajal bagi mereka
Sesungguhnya kematian datangnya mendadak
Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal
Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda, “Meninggalkan kenikmatan dunia lebih
pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali orang
mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepada
para Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dnia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan,
dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk
mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka
hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.
Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang niatnya
adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi
kaya, dan dunia akan mendatanginya  dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah
akan menceraiberaikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya  dan
tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.



Fasal 28Makalah ke Dua puluh delapan : Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad,
berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup
hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar
para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :
Wahai Tuhanku…
Sesungguhnya aku senang
Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku
Sementara aku sangat faqir dan lemah
Oleh karena itu wahai Tuhanku,
Bagaimana Engkau tidak senang
Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku
Sementara Engkau Maha Kaya
Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu
Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu
Dan sesungguhnya  sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca setelah melaksanakan
shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut
Ilahy lastu lil firdausi ahla
Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi
Fahably zallaty wahfir dzunuuby
Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi
Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi
Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi
(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu
Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada
Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah
SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly. Ketika itu berdirilah
Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa
RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,
‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca Laqad jaa
a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil
mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa
Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu dia /As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa
Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu,
maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….



Fasal 29Makalah ke duapuluh sembilan :
Telah berka Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama Allah, maka bercerailah dengan
nafsumu.” Artinya tidak menuruti apa yang menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di
dalam mimpi setelah beliau wafat, maka beliau menjawab,’ Allah Ta’ala berfirman kepadaku,’Apakah engkau
mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?’
Maka aku menjawab, ‘Dengan amal baikku”.
Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.
Aku menjawab, ‘Dengan ikhlas dalam ubudiyahku ‘.
Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.
Aku menjawab,’Dengan hajiku dan puasaku ?’
Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.
Aku menjawab, ‘Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk mencari ilmu“.
Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.
Akupun bertanya, ‘Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“
Allah Ta’ala menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di Baghdad kemudian engkau mendapati
seekor anak kucing yang masih kecil dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudia n
engkau mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau hangatkan ia ?”
Aku menjawab, ‘Ya’.
Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, ‘Dengan kasih sayangmu kepada anak kucing yang masih kecil itulah Aku
menyayangimu’.



Fasal 30Telah berkata Asy-Syibli, “Jika engkau telah merasakan nikmatnya pertemuan (wushlah  –  dekat dengan Allah
SWT) niscaya engkau akan mengerti rasa pahitnya perpisahan (Qathi’ah-yaitu jauh dari Allah Ta’ala) . karena
sesungguhnya berjauhan dari Allah SWT merupakan siksaan yang besar bagi AhluLlah ta’ala. Dan termasuk
salah satu dari do’a SAW adalah ,”Allahummarzuqny ladzatan nadzari ilaa wajhiKal Kariim, wasyauqu ilaa
liqaaiK”. (Yaa Allah berikanlah kepadaku kelezatan dalam memandang wajah-Mu yang Mulia dan rasa rindu
untuk bertemu dengan-Mu)
Fasal 31
Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa yang pada waktu pagi hari
(memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakan-akan ia telah mengadukan Tuhannya. “.
Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah
termasuk do’a. adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan pembagian Allah
Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah
kamu semua aku ajari sebuah kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani israil ?“.
kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”. RasuluLlah SAW bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma
laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil
‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah tempat  mengadu, dan Engkaulah
Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan
Maha Agung. Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut
sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.
Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada
tuhannya. Artinya, barang siapa yang bersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada
Tuhannya, karena ia tidak  ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak
beriman dengan kekuasaan-Nya. Karena sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi
Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.
Dan barang siapa yang merendahkan  diri kepada orang kaya karena melihat kekayaannya, maka hilanglah 2/3
agamanya. Artinya bahwa disyari’atkannya penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan
kebaikan dan ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang memuliakan harta,
sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal shaleh. Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al-Jailany RA, “Tidak boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga keadaan,yang
pertama melaksanakan perintah, kedua  menjauhi larangan, dan ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.” Dan
kondisi minimal bagi seorang mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebutdi atas,
32. telah berkata Sayidina Aby Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara yang tidak akan dapat diperoleh dengan tiga
perkara lainnya. Artinya ada tiga perkara, dimana tiga perkara tersebut tidak akan dapat diperoleh dengan tiga
perkara, yaitu yang pertama Kekayaan dengan hanya berangan-angan. Sesungguhnya kekayaan tidak dapat
diperoleh hanya  dengan berangan-angan akan tetapi dengan pembagian dari Allah. yang ke dua Muda dengan
bersemir. Maka tidak akan dapat diperoleh kemudaan usia hanya dengan menyemir rambut dan lain sebagainya.
Yang ketiga, Kesehatan dengan obat-obatan.



Fasal 32Dari Abu Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara tidak dapat di capai/didapatkan dengan tiga perkara lainnya : 1.
Kekayaan dengan angan-angan. Artinya tidaklah kekayaan itu dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan
tanpa kerja nyata, dan pembagian dari Allah. 2. Muda usia dengan semir. Artinya tidaklah akan diperoleh
keadaan menjadi muda hanya karena disemirnya rambut dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah
bertambah usia (tua) tidaklah mungkin berubah menjadi muda kembali meskipun dengan rambut disemir atau
yang lainnya. Dan umur akan terus berjalan hingga akhirnya habislah umur itu kembali menghadap sang
Khaliq. 3. Dan kesehatan dengan menggunakan obat-obatan. Artinya kesehatan tidak dapat diperoleh dengan
mengkonsumsi obat-obatan akan tetapi sesuai sunnah Allah harus dengan menjaga diri dengan makanan yang
halal dan olah raga secara teratur serta rajin beribadah.



Fasal 33Dari Sahabat Umar RA, “bersikap kasih sayang dengan manusia adalah setengah dari sempurnanya aka”l.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Thabrani dan Baihaqi dari Jabir bin abdiLlah dari Naby  SAW
bersabda, “Berperilaku baik terhadap manusia adalah shadaqah”. Artinya berperilaku yang baik terhadap
manusia melalui ucapan dan perbuatan pahalanya sama dengan orang yang bersedekah. Dan sebagian dari
suritauladan Naby dalam bersikap baik dalam pergaulan adalah beliau tidak pernah mencela makanan dan
menghardik pelayan dan tidak pernah memukul  wanita termasuk isteri beliau. Dan yang lebih tepat untuk
perilaku yang baik ini adalah meninggalkan kesenangan duniawi karena tuntutan agama. Dan rajn bertanya
(kepada Ulama) adalah setengah dari ilmu. Karena ilmu akan dipeorleh apabila kita rajin bertanya terhadap
segala sesuatu yang kita tidak tahu. Dan rajin bekerja adalah setengah dari penghidupan. Karena dengan rajin
bekerja kita akan memperoleh rizki sebagai bekal untuk kelangsungan hidup kita.



Fasal 37- 38Makalah  ke 37. dari Nabi Dawud AS, Diwahyukan di dalam kitab Zabur,  –  Wajib bagi orang yang berakal
untuk tidak menyibukkan diri kecuali dalam tiga hal :
1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akhirat.
2. Bergaul dengan pergaulan yang baik.
3. Bekerja dengan baik mencari rizki yang halal untuk bekal ibadah kepada Allah karena mencari rizkiyang
halal adalah wajib hukumnya.
Makalah  ke 38. dari Abu Hurairah RA. Nama beliau adalah AbduRrahman bin Shakhr. Beliau berkata, telah
bersabda Naby SAW Ada tiga perkara yang menyelamatkan (dari adzab), tiga perkara yang merusakkan
(membawa orang kepada kerusakannya), tiga perkara meningkatkan derajat (beberapa tingkatan di akhirat), tiga
perkara menghapuskan dosa. Adapun tiga yang menyelamatkan adalah
1. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
2. Sedang dalam faqir dan kekayaan.
3. Seimbang dalam ridha dan marah (yaitu Ridha karena Allah dan marah karena Allah).
Adapun (tiga) yang merusakkan adalah
1. bakhil yang bersangatan (dengan tidak mau memberikan apa yang menjadi hak Allah dan haq makhluk).
Dalam riwayat lain bakhil yang diperturutkan. (Adapun apabila sifat bakhil itu ada dalam diri seseorang akan
tetapi tidak diperturutkan, maka tidaklah yang demikian ini merusakkan karena sifat bakhil adalah sifat yang
lazim ada pada manusia).
2. Hawa nafsu yang selalu diikuti.
3. Dan herannya (‘ujub) manusia terhadap diri sendiri. (Artinya seseorang memandang dirinya dengan
pandangan  kesempurnaan dirinya disertai lalai terhadap ni’mat Allah Ta’ala dan merasa aman dari hilangnya
ni’mat itu).
Adapun yang meninggikan derajat adalah
1. Menebarkan salam (artinya menebarkan salam kepada orang lain yang dikenal maupun yang tidak dikenal).
2. Memberikan hidangan makanan (kepada tamu atau orang yang menderita kelaparan).
3. Dan shalat pada waktu malam sedang manusia sedang tertidur lelap (yaitu mengerjakan shalat tahajud pada
tengah malam ketika orang-orang sedang lalai dalam ni’matnya tidur).
Adapun yang dapat menghapus dosa adalah
1. Menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit (artinya menyempurnakan wudhu pada saat udara sangat
dingin dengan menjalankan sunah-sunahnya).
2. Malangkahkan kaki untuk mengerjakan shalat berjama’ah.
3. Menunggu shalat sesudah shalat (Untuk mengerjakan shalat berikutnya di masjid yang sama).



Fasal 39-43Makalah ke 39 :
ﺖﯿﻣ ﻚﻨﺌﻓ ﺖﺌﺷ ﺎﻣ ﺶﻋ ﺪﻤﺤﻣ ﺎﯾ مﻼﺴﻟا ﮫﯿﻠﻋ ﻞﯾﺮﺒﺟ لﺎﻗ , ﺔﻗرﺎﻔﻣ ﻚﻨﺌﻓ ﺖﺌﺷ ﻦﻣ ﺐﺒﺣأو , ﮫﺑ ىﺰﺠﻣ ﻚﻨﺌﻓ ﺖﺌﺷ ﺎﻣ ﻞﻤﻋاو ,
Jibril As berkata, “Ya Muhammad hiduplah  sesuka engkau karena sesungguhnya engkau akan meninggal
dunia. Dan cintailah orang yang engkau suka karena engkau pasti akan berpisah (disebabkan kematian).Dan
beramalah sesuka engkau karena engkau akan di beri pahala atas amal itu.



Makalah ke 40 :ﻟا لﺎﻗ ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﮫﻟا ﻞﺻ ﻲﺒﻨ : ﮫﻠﻇ ﻻا ﻞﻇﻻ مﻮﯾ ﮫﺷﺮﻋ ﻞﻇ ﺖﺤﺗ ﷲا ﻢﮭﻠﻈﯾ ﺮﻔﻧ ﺔﺛﻼﺛ . هرﺎﻜﻤﻟا ﻰﻓ ﺊﺿﻮﺘﻤﻟا , ﻢﻠﻈﻟا ﻰﻓ ﺪﺟﺎﺴﻤﻟا ﻰﻟا ﻰﺷﺎﻤﻟاو ,
ﻊﺋﺎﺠﻟا ﻢﻌﻄﻣو .
Tiga golongan yang akan mendapatkan naungan  ﷲا  di bawah naungan ‘arsy-Nya pada hari dimana tidak ada
naungan kecuali  naungan-Nya. 1 orang yang berwudhu pada waktu yang sangat berat (dingin bersangatan). 2.
orang yang pergi ke masjid dalam kegelapan )untuk mengerjakan shalat berjama’ah). 3. Orang yang memberi
makan orang yang kelaparan.



Makalah ke 41 :ﮫﯿﻠﻋ ﻢﯿھاﺮﺑﻻ ﻞﯿﻗ مﻼﺴﻟا , " ءﺎﯿﺷا ﺖﺛﻼﺜﺑ لﺎﻗ ؟ ﻼﯿﻠﺧ ﷲا كﺬﺨﺗا ﺊﯿﺷ يﻷ : هﺮﯿﻏ ﺮﻣأ ﻰﻠﻋ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﷲا ﺮﻣا تﺮﺘﺧا , ﺎﻣو ﻰﻟ ﷲا ﻞﻔﻜﺗ ﺎﻤﺑ ﺖﻤﻤﺘھا ﺎﻣو
ﻒﯿﻀﻟا ﻊﻣ ﻻا ﺖﯾﺪﻐﺗ ﺎﻣو ﺖﺸﯿﻌﺗ
Ditanyakan kepada Nabi Ibrahim AS, “Dengan sehingga  ﷲا  menjadikan engkau sebagai kekasih ?” Maka Ia
menjawab, “Dengan tiga hal, Aku memilih melaksanakan perintah  ﷲا  daripada perintah selainﷲا. Dan aku tidak
bersedih hati atas apa yang telah  ﷲا  tanggung untukku (dari rizki). Dan tidak sekali-kali aku makan malam atau
makan pagi kecuali bersama-sama dengan tamu.
Telah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berjalan satu mil atau dua mil untuk mencari orang yang maudijak
makan bersamanya.



Makalah ke 42 :ءﺎﻤﻜﺤﻟا ﺾﻌﺑ ﻦﻋ : ﺺﺼﻐﻟا جﺮﻔﺗ ءﺎﯿﺷا ﺔﺛﻼﺛ 1   ﻲﻟﺎﻌﺗ ﷲا ﺮﻛذ , 2   ﮫﺋﺎﯿﻟوأ ءﺎﻘﻟو , 3   ءﺎﻤﻜﺤﻟا مﻼﻛو
Diriwayatkan dari sebagian ahli hikmah (orang-orang yang pandai mengobati penyakit hati). Tiga perkara dapat
menghilangkan kesusahan. 1 Dzikir kepada ﷲا dengan lafadz apapun seperti banyak membaca kaliamat ﷲاﻻا ﮫﻟاﻻ
dan kalimat  ﷲﺎﺑﻻاةﻮﻗﻻﻮﻟﻮﺣﻻ, atau dengan bermunajat kepada-Nya. 2 Bertemu kekasih / Aulia-Nya dari para
ulama dan orang-orang saleh. 3 Mendengarkan kalam (nasihat) para hukama’ (orang yang menunjukkan kepada
kebajikan dunia dan akhirat).



Makalah ke 43 ﮫﻨﻋ ﷲا ﻲﺿر ىﺮﺼﺒﻟا ﻦﺴﺣ ﻦﻋ : ﻢﻠﻋﻻ ﮫﻠﺑدأ ﻻ ﻦﻣ ﮫﻟ , ﮫﻟ ﻦﯾدﻻ ﮫﻟﺮﺒﺻﻻ ﻦﻣو , ﮫﻟ ﻰﻔﻟزﻻ ﮫﻟ عروﻻ ﻦﻣو .
Dari Hasan Al Bashri RA, Barang siapa yang tidak memiliki adab/etika (kepada ﷲا  dan kepada makhluk) maka
tiadalah ilmu baginya. Barang siapa yang tidak memiliki kesabaran (karena menanggung bala’ dan
menanggung disakiti oleh makhluk, dan atas beratnya menjahui maksiyat dan atas melaksanakan kewajiban),
maka tiadalah agama baginya. Barang siapa yang tidak wara’ (dari yang haram dan syubhat) maka tidak  ada
pujian (martabat) baginya di hadapan ﷲا dan tiada kedekatan baginya kepada ﷲا


Di poskan oleh santri ISBANA Al-bantani
di nukil dari http://pondok-tugung.blogspot.com
semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar